Tampilkan postingan dengan label Photerous. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photerous. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

Celeng



Setelah kemarin wedus kemudian kini Celeng, kali ini sodara sayah yang menemukan ini. Sebuah mobil putih bertuliskan Celeng ini dengan tulisan ( 주) di baca "Ju" sama dengan Co. dalam Inggris atau PT. dalam bahasa Indonesia.

Semakin yakin saja kalo Korea ini dulunya bagian dari Majapahit ..ha..ha...

Minggu, 11 Januari 2015

Wedus


Setelah sekian lama gagal memotret tulisan ini dengan jelas, akhirnya berhasil juga meski gak begitu maksimal hasilnya sebab di ambil dari dalam bus yang melaju kencang. Pabrik ini memang terletak di jalan antar kota yang kebetulan tidak ada halte yang dekat di lokasi ini. Jadi setiap lewat sini pasti sopirnya ngebut jadi dari beberapa kesempatan, meski sudah di persiapkan sebelumnya dengan kamera hape tetep saja gagal total......wedus pancen!

Sayah curiga jangan-jangan dulu daerah ini pernah menjadi bagian dari Majapahitnya era Gajah Mada, soalnya banyak kata yang mirip Jawa. Termasuk dua nama marga di sini, Marga Pak -ini kalo versi Inggris di tulis Park, padahal dalam huruf Hanggeul tidak ada huruf "R"nya- dan juga marga Kang. Juga akhiran "Yo" untuk memperhalus bahasa, mirip Jawa kan. Coba aja bahasa di tambahi Yo di belakangnya jadi lebih halus kan? ...wedus yooo ..he..he..



Sabtu, 28 Desember 2013

Tahu Separatis..

Dsc02062

Jenis tahu ini banyak menjadi menu utama gorengan di Warung Indonesia (sebutan untuk Restoran Indonesia)  di Korea di samping tempe goreng tentu saja.  Soal harga termasuk mahal walaupun bahannya banyak ditemui di sini, tidak seperti tempe yang dijual ditempat tertentu saja. Per 3 bijinya biasanya  dihargai 2.000 Won, sekira 20rebu Ripis.
Lebih umum dikenal dengan Tahu isi walopun kadang isinya tahu juga. Tapi di kampung sayah jenis tahu ini  biasa disebut tahu berontak, oleh sebab itu tentu saja boleh di sebut sebagai tahu separatis.  Jadi termasuk makanan yang  berbahaya sebab berada di kelas Subversif....halah.

Selasa, 08 Oktober 2013

Vending Machine




Mesin jual otomatis ini cukup membantu sayah kalo pas lagi jalan-jalan, selain mengurangi beban tas sebab gak oerlu lagi bawa bekal minuman juga vending machine berguna untuk mengurangi simpanan uang receh yang udah penuh di saku. Memang sebagian sayah masukin celengan terutama yang pecahan 500 won tapi yang pecahan 100 won ke bawah biasanya sayah menukarkan dengan sebotol minuman di vending machine ini.

Di sini vending machine nggak melulu menjual minuman, biasanya jenisnya tergantung tempatnya. Kalo yang dekat-dekat WC umum gak jauh-jauh yang dijual mulai dari tissue basah sampai kondom. Kalo yang dekat-dekat ruang tunggu biasanya ya minuman baik dingin maupun hangat, juga snack dan ada juga buah terutama pisang. Beberapa kali malah menemukan vending machine yang menjual buku, iyah buku tapi sayangnya pake bahasa Korea meski pake bahasa Krama Enggeris pun belum tentu saya beli........

Baiklah, mungkin gambar yang di atas kurang jelas sebab terhalang oleh sesuatu. Entah mengapa sesuatu itu sering menghalangi sayah dalam pengambilan photo, maka sayah coba lampirkan gambar yang lain...


Panas Dingin


Gak ada Bhs. Jawa Ngapak-nya



Minggu, 06 Oktober 2013

Musim Penuh Warna






Angin utara yang konon dari Siberia mulai bertiup, dingin mulai terasa. Dan itu artinya musim gugur sudah tiba. Belum begitu dingin memang masih kisaran 9 derajat di pagi hari dan siang 21 derajat celcius. Tapi sudah memaksa pakai selimut kalo tidur malam.

Tapi ada yang sayah suka saat  musim gugur, alamnya menjadi begitu berwarna. Satu keindahan yang tak terkira dari sang Pencipta.

Camera:  Note, auto

Minggu, 22 September 2013

Angon Bocah


Tidak seperti yang anda pikirkan ....


Lokalisasi : Ansan
Camera : F100S, auto, Cropped





Rabu, 11 September 2013

Tetap Cerah




Apapun cuacanya tetaplah cerah selalu. Meski cuacana hati tidak begitu......










Jumat, 06 September 2013

Mahal


Mahal, begitulah rasanya kalo lagi pengin makan buah-buahan tropis. Bersyukurlah kita yang hidup di daerah tropis sebab begitu banyak ragam buah-buahan yang ada. Tidak seperti negeri empat musim ini yang hanya beberapa jenis saja yang bisa hidup. Kepengin makan pisang saja yang ada di sini cuma pisang jenis cavendish yang tentu saja tidak seenak pisang ambon dan tidak bisa di goreng seenak pisang kepok misalnya. 

Satu buah mangga di sini dihargai 5 ribu Won itu setara dengan 50 ribu ripis kurs sekarang., dan sayah pilih tidak, mending sekalian beli durian yang harganya 20 ribu won sak gluntung. Mahal sekalian tak mengapa asal puas.

Satu hal yang menarik dalam buah pertropisan ini, hampir semua buah yang ada baik yang buah segar maupun olahan kaleng kebanyakan datang dari Thailand maupun Philipina. Lalu dimanakah Indonesia negeri yang luasnya berkali lipat dari kedua negara tersebut? Sapi tenan nek mikir iki...

Kamis, 25 Juli 2013

Pedalaman


Dari beberapa model kancut baru kali ini sayah menemukan model yang aneh. Satu model kancut dengan tambahan resleting? Kalo memang di kasih saku tapi untuk apa coba?  Naruh tangan? Satu-satunya yang masuk akal mungkin ini kancut superman yang biasa di pake di luar ituh, jadi perlu tambahan saku kan?

Satu lagi, sayah suka heran dengan orang-orang yang membeli perkancutan ituh. Kok ya mau beli padahal ya gak ada isinya ituh. Coba banyangkan saja membeli sesuatu tapi cuma dapet bungkusnya saja tanpa ada isinya sama sekali......ckckckckck.

Kamis, 18 Juli 2013

Bahasa Indonesia?



Cukup kaget juga waktu pertama kali ngaktifin nomer baru via ponsel sebab ucapan dari operator menggunakan Bahasa Indonesia. Perasaan tiga tahun lalu waktu ngaktifin nomer HP tapi beda operator masih menggunakan Hanggeul (huruf Korea) dan sekarang semua layanan dari operator yang sekarang bisa diakses dengan menu pilhan Bahasa Indonesia. Ini hebat, sebab sebagai minoritas di sinih tapi tetep diperhatikan dalam hal kepuasan pelanggan.



Tak cuma itu, untuk urusan duit pun di sini nggak usah takut untuk mengambil uang di ATM sebab gak bisa bahasa Korea. Hampir semua ATM bank di sini sudah ada menu bahasa Indonesia-nyah. Jadi nggak usah khawatir salah jika anda sekalian pas ke Korea yang menderita penyakit melek duit tapi buta huruf Korea, silahkan pilih saja menu bahasa Indonesia. Mungkin sebab itu juga sayah sampai detik ini tidak mahir berbahasa Korea, mungkin sebab  terlalu dimanjakan dengan bahasa sendiri di negeri orang.

Terakhir, mungkin saja suatu saat nanti tersedia juga Agassi -sebutan untuk nona Korea- dengan menu pilhan bahasa Endonesya .....halaah

Sabtu, 15 Juni 2013

Singha



Bir dengan merk Singha made in Thailand ini sayah temukan di toko World Food. Bukan minuman yang menarik perhatian sayah, tapi nama Singha yang tertera pada merk minuman ini. Dari gambarnya jelas-jelas menunjukkan kalo kata Singha ini sama artinya dengan kata Singa dalam bahasa endonesyah. 

Entah kebetulan atau tidak yang jelas ini bukan pertama di sayah menemukan kesamaan dalam penamaan hewan di Thailand. Yang pertama Kalebau untuk hewan Kerbau dan Mut untuk Semut. Agak sedikit berbeda memang tapi dalam pengucapan terdengar hampir sama.

Kalo ditelusuri dari sejarah memang dulunya sebagian Thailand masuk dalam kekuasaan Majapahit. Dan mungkin menguasai satu bahasa yang sama yaitu Sansekerta, setidaknya ada kemiripan huruf Thailand dengan hurus Jawa. Bedanya huruf Thailand masih dipakai sampai sekarang sedangkan huruf Jawa hanya dipakai sebagai pelengkap pelajaran di sekolah untuk muatan lokal saja.

Kamis, 18 April 2013

Palli-palli (빨리-빨리)



Palli-palli (빨리-빨리), satu kata yang menjadi akrab terdengar setelah berada di sinih, yang artinya Cepat-cepat. Memang orang Korea itu hobinya cepat-cepat, nggak di kerjaan atau sedang jalan-jalan semuanya jadi seperti terburu-buru kalo di lihat dari sudut pandang sayah yang Endonesyah. Pun dalam urusan tampil sexeh para kaum perempuan inginnya cepat-cepat saja. Suhu yang masih di kisaran 15-an derajat di siang hari sudah berani tampil terbuka, sedangkan sayah masih berjaket ria meski tipis saja. 
Iman, begitu juga imron makin teruji seiring datangnya musim panas. Menurut sayah dalam soal ini pilihannya hanya Ya dan tidak. Sebab Allah tidak mengenal kadang-kadang, kadang iman naik kadang turun, tidak ada itu. Ya atau tidak itu saja.....halah malah lagunya iwan fals.

Oh ya, jangan terlalu tertipu melihat gambar di atas, bisa jadi itu sesuai dengan teori Wooyaah. Dilihat dari belakang "wooww" tapi begitu tampak depan "yaaaaaah". Tapi mungkin ada yang lebih beruntung lagi dari itu, jangan-jangan ini bidadari yang turun dari langit, tapi mukanya duluan -sami mawon.

Sabtu, 13 April 2013

Oksusu (옥수수)


Jagung ini terbeli saat berkunjung ke Seoul Grand Park kemaren. Suhu yang masih dingin di bulan April sebab angin kencang nan dingin dari utara saya pikir sempurna bila dipadu sambil makan jagung rebus sambil melihat lalu lalang orang. Dalam bahasa Korea jagung di Sebut dengan Oksusu (옥수수), hati-hati dengan penulisan dan pengucapan yang terpisah sebab bisa menjadi multitafsir bagi jama'ah blogger yang budiman.

Kalo melihat penampilan fisik sepertinya sama dengan jagung kebanyakan di Endonesyah sanah. Bedanya mungkin hanya soal rasa, kalo alam bahasa Jawa disebut "buket" kalo dalam bahasa English Ngapak "buket mbleketaket", satu kata yang sayah belum tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Yang jelas rasanya seperti ketan, jadi makan satu saja sudah membikin tenang demo anarkis cacing di perut yang sempat mau bakar ban segala katanya sebab sedari pagi sayah belum sempat sarapan.

Total kerusakan (dompet) untuk menebus satu biji jagung di sini cukup murah hanya 2.000 won saja atau sekitar 17ribu Ripis, heh? Kok jadi mahal yah? 
Satu lagi jangan lupa tidak seperti  semangka, ternyata jagung yang dijual dimanapun tidak ada versi yang non biji.

Selasa, 09 April 2013

Pengemis



Di Subway meski jarang sekali di temui tetapi ada juga pengemis ternyata. Kemaren sayah menemukan ketika menuju Seoul, seorang kakek tua dengan bertongkat dan kacamata hitamnya, mirip seperti aksesoris khas pengemis di Endonesyah bedanya di sini pakaiannya lebih rapi. Tongkat dan kacamatanya sebagai penanda kalau beliaunya buta atau pura-pura buta seperti pengemis yang banyak ditemui di kereta di Endonesyah sana. Untuk itu sayah gak mau menuduh lebih lanjut, cuma sekilas sayah liat ketika pindah gerbong kakek tua ini begitu tepat sekali memencet tombol pintu otomatis antar gerbong tanpa meraba terlebih dulu  mungkin saking sudah hapalnya, mungkin.

Beda dengan di Endonesyah sana pengemis kereta ini tidak mendatangi satu persatu penumpang untuk menyodorkan wadah uangnya dan tetap menunggu sampai ada kode untuk berpindah apa bila tida memberi  tetapi orang ini terus saja berjalan lurus di tengah-tengah gerbong tanpa mempedulikan ada yang memberi atau tidak. Kepasrahan tingkat tinggi! meminta tapi seperti tidak berharap dan tidak memaksa pula, tak heran bila jarang sekali yang memberi kalopun ada biasanya orang asing saja, itu pun tidak seberapa.

Model pengemis cuek ala Korea ini memang jadi tidak merepotkan kami para calon customernya. Tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan allibi tidak memberi, atau 1001 alesan lainnya semisal dalam bahasa Spanyol :
 "Sanese pak!"
Ataupun sampe repot-repot mengeluarkan energi yang tidak perlu dengan menghardiknya.
Baiklah, inti dari postingan ini adalah janganlah takut bepergian tanpa uang receh , itu saja. -in Korea of course-


Sabtu, 06 April 2013

Nenek penjual ituh...



Anseong, Korea. Setiap kali mampir setiap minggunya ke World Food, satu toko di kota kecil Anseong yang menjadi langganan kami para buruh migran dari beberapa negara karena memang menyediakan berbagai bahan makanan dari beberapa negara termasuk Endonesyah. Ada satu pemandangan yang menarik perhatian sayah yaitu keberadaan seorang Nenek tua penjual makanan kecil. Simbah ini berjualan kaki lima di pinggir jalan  di depan seberang pintu sebuah pasar sebab tak punya kios permanen. Tenda-tenda di belakang ituh adalah milik para pedagang yang datang saat hari pasaran yang biasanya tiap 5 hari sekali, mirip di Jawa yang sesuai dengan hari pasaran. Jadi kalo bukan hari  pasaran Nenek tua ini berjualan sendirian di sisi jalan ini. 
Yang hebat dari nenek tua ini berjualan terus tiap hari di empat musim yang berbeda. Di Musim dingin kemaren pun sayah liat tetep jualan meski suhu udara mencapai -14, hanya menggunakan box kardus untuk duduk dan jaket tebal untuk menahan dingin tanpa pemanas sama sekali. Dan yang lebih hebat lagi dari itu adalah selama dua tahun lebih dam tiap minggu melewati nenek tua ini, sayah tidak pernah sekalipun melihat ada seorang  pembeli yang mampir untuk membeli daganganya meski di hari pasaran sekalipun termasuk sayah.

Jogja, Endonesyah. Suatu sore menjelang magrib atau malah tepatnya saat adzn magrib mengumandang datanglah sesosok nenek tua -dengan jalan yang kepayahan dan sedikit membungkuk- di rumah kontrakan sayah di Jogja. Rupanya nenek ini menggendong sesuatu dibelakang, beberapa sisir pisang yang di tempatkan di wadah yang dinamalan Tenong kalo di Jogja, kalo di daerah sayah namanya Rinjing. Nenek ini berusaha menyakinkan sayah dan istri untuk membeli dagangan pisangnya dengan dalih udah sore dan dagangan belum laku. Atas nama kasihan maka sayah menyuruh istri sayah untuk membelinya meski dengan harga yang lebih mahal -ditawar tidak mau- dibandingkan di warung dan dengan kondisi pisang yang sudah memprihatinkan. Baiklah, sayah lega saat itu sebab rasanya telah meringankan gendongan seorang nenek tua yang kepayahan di waktu maggrib. 
Tapi ternyata tidak sodarah-sodarah, kelegaan sayah itu berubah di hari-hari berikutnya. Ternyata nenek tua itu tiap hari datang ke kontrakan sayah di waktu dan gelombang  yang sama  dagangan yang sama. Kesimpulanya itu hanya modus saja dengan modal tua nan kepayahan dikombinasikan dengan waktu maghrib yang menggesa, sempurna sudah. Sayang tidak diimbangi dengan ritme waktu yang pas.

Sampai di sini sayah telah gagal untuk ikhlas dan sabar.

Selasa, 26 Maret 2013

Altang (알탕)


Lagi seneng ngomongin makanan gapapa lah buat nambah lapar...he..he.... Menu makanan yang satu ini bisa direkomendasikan untuk yang nyari makanan halal di Korea, Altang (알탕) namanya tapi kadang di menu juga tertulis Haemul Altang (햬물알탕) isinya sama saja, kalo diartikan kira-kira artinya Sup Telor Ikan. Bahanya dari penampakan ada Lobak, kecambah, daun bawang/muncang, bawang bombay dan tentu saja telor ikan. Untuk lebih lengkapnya berikut cara masaknya bisa googling aja di yahoo atao yahooing aja di google....halah. Soal porsi jangan nanya deh mangkoknya kaya baskom tapi soal rasa "soenggoeh-soenggoeh patoet dipoedjieken itoe poen". Bersahabat sekali dengan lidah orang Endonesyah.

Total kerusakan : 4.500 won, di foodcourt Mall 6.000 won

Minggu, 24 Maret 2013

Klamudsu


Dulu waktu masih tinggal di Solo yang panas, sayah hampir tiap hari membeli kalmudsu ini. Satu minuman kombinasi kelapa muda plus susu cap nona.. Dan meningkat menjadi tiap hari saat puasa, rasanya seger sebagai pembuka capcay godog langganan kami waktu itu....ah tapi itu dulu.
Dan tadi siang sayah menemukan tulisan Es Kelapa Muda Susu di salah satu Warung makan Indonesia di Ansan. Tapi keinginan untuk kembali ke masa lalu itu belum tentu seuai harapan dan yang keluar adalah seperti penampakan pada gambar di atas. Sunnguh kombinasi yang mnegacaubalaukan rasa di mulut......ora enak blass.

Total Kerusakan: 2.500 Won

Selasa, 05 Maret 2013

Nyampah


Selama ini Korea di kenal sebagai negara yang bersih dari sampah. Memang dibanding dengan Endonesyah masih jauh sekali soal kebersihan dan kerapihan kotanya. Meski begitu tetep aja masih ada yang nyampah sembarangan -seperti poto di atas. Orang Korea terkenal disiplin sekali dalam aturan, termasuk urusan buang sampah. Tapi tetep aja ada yang buang sampah sembarangan, biasanya sekali ada yang buang sampah di tempat tertentu -seperti di atas- dikiranya emang sebagai temapat buang sampah saking disiplinnya .

-Inti dari tulisan ini sih sebenernya ngincer yang pake sepatu merah bercelana super pendek itu......maaf potonya di crop